Asaku asamu asakita


Stay Hungry. Stay Foolish. (Steve Jobs)
April 7, 2008, 1:49 am
Filed under: motivasi, Uncategorized | Tag: , , ,

Stay Hungry. Stay Foolish.

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai”

Naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi
Pixar, dalam acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama
di salah
satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus
kuliah.
Bahkan sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat
dalam upacara
wisuda. hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam
kehidupan saya.
Hanya itu, tidak lebih. Hanya tiga cerita.

Cerita Pertama adalah mengenai rangkaian titik-titik.

Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah
mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan
memberikan saya
kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus
diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan
untuk
dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan
istrinya.
Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah
pikiran karena
ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di
daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari
seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut;
apakah
Anda berminat? Mereka menjawab: “Tentu saja.” Ibu kandung
saya lalu
mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah
dan ayah
angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani
perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan
kemudian,
setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai
perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun,
dengan naifnya
saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan
Stanford,
sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya
pegawai rendahan
habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak
melihat
manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan
dalam hidup
saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.
Saya sudah
menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua
saya seumur
hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah,
yakin bahwa
itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun
sekarang saya
menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib
yang tidak
saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya
sukai. Masa-
masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos
sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya
mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen
untuk
membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap
Minggu
malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya
menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena
mengikuti
rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat
berharga. Saya
beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu
adalah yang
terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru
kampus, setiap
poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat
indahnya.
Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan
normal. Saya
memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya
belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat
variasi spasi
antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat.
Semua itu
merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni
yang tidak
dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi
kehidupan
saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain
komputer
Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah
komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya
tidak DO
dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki
sedemikian
banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan
karena Windows
menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu.
Andaikata saya
tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas
kaligrafi, dan PC
tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin
merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun,
sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.

*Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan
melihat ke
depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke
belakang*.
Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana
pun akan
terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,
takdir, jalan hidup, karma Anda, atau apapun istilah lainnya.
Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam
kehidupan
saya.

Cerita Kedua Saya adalah mengenai Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih
muda. Woz
dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika
saya berumur
20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple
berkembang dari
hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000
karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami
-Macintosh- satu
tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya
dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda
dirikan?
Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami
merekrut
orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan
perusahaan
bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan
lancar. Namun,
kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa
depan dan
kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya.
Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di
mana-mana.
Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya,
tiba-tiba sirna.
Sungguh menyakitkan.

Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang
harus saya
lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan
generasi
sebelumnya, saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu
dengan
David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas
keterpurukan saya.
Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir
untuk lari
dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat
timbul
kembali, saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang
terjadi di
Apple sedikit
pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya
tetap cinta.
Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.

Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya
sadari
bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang
menimpa saya.
Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh
keleluasaan sebagai
pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu
mengantarkan
saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan
bernama NeXT,
lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang
kemudian
menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang
menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan
sekarang
merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui
rangkaian
peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya
kembali lagi
ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT
menjadi jantung
bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki
keluarga yang luar biasa.

Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak
dipecat dari
Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya
memerlukannya.
*Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan
kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang
membuat
saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya
lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu
berlaku baik
untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. *Pekerjaan Anda
akan
menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati
hanya
dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan
Anda hanya
bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda
belum
menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan
mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya
dengan
hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda
dengannya.
Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya adalah mengenai Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih
berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu
adalah hari
terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu
membekas
dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun
terakhir,
saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya
kepada diri
sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap
melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya
selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya
tahu saya
harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting
yang saya
temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena
hampir segala
sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut, malu
atau gagal-
tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang
hakiki
yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang
saya tahu
untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan
sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada
alasan
untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker.
Saya
menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas
menunjukkan saya
memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu
pankreas.
Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti
jenisnya adalah
yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih
dari 3-6
bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan
membereskan segala
sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap
mati.
Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam
beberapa
menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun
mendatang.
Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi
keluarga
Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.

Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis
tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke
tenggorokan,
lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas
saya dan
mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri
saya, yang ada
di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah
mikroskop,
para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah
kanker pankreas
yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya
dioperasi
dan sehat sampai sekarang.

Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap
terus
begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman
tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada
Anda bahwa
menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:

Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin
masuk surga
pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun,
kematian pasti
menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang
harus
demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.
Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua
menyingkir
untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis
menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan
menjalani hidup
orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup
bersandar
pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang
menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan
yang
terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan
intuisi
Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda
inginkan. Semua
hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang
bernama “The
Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar
generasi
saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart
Brand yang
tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya
sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu
akhir 1960-
an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi
semuanya dibuat
dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti
Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran
Google: isinya
padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan
timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth
Catalog”,
dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi
terakhir.
Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di
sampul
belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di
pagi
hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya
ada kata-kata: “*Stay Hungry. Stay Foolish.*” (Tetaplah
Lapar. Selalu
Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda
tangan
mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan
diri saya
begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai
kehidupan
baru, saya harapkan Anda juga begitu.

Stay Hungry. Stay Foolish.
Terima kasih semuanya.

http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA
<http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA>


3 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Thanks 4 sharing pak… cuma agak capek bacanya, puanjang euy..🙂

Komentar oleh mustfree

terima kasih pak prih
sori kepanjangan,krn males negdit

Komentar oleh asahila

Bagus banget pak, memberi saya inspirasi untuk mengikuti kata hati dan mengerjakan apa yang paling disukai….(cuman yang bagian ketiga gak kebaca…panjang banget)

Komentar oleh lyndiayd




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: